This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pages

Sunday, October 30, 2016

Operasi FESS & Turbinectomy

melanjutkan post saya sebelumnya tentang keluhan hidung mampet, alergi debu http://cumibulat.blogspot.com/2016/10/hidung-mampet-setiap-malam-alergi-debu.html

di Tahun 2014, mertua disarankan untuk medical check up di penang untuk keluhan maag yang sering kumat dan pendengaran yang kurang bagus. yaudah saya sekalian checkup hidung saya.
bertemu dengan Dr Deong spesialis THT di rumah sakit Penang Adventist Penang, beliau menginfokan dan menfoto kondisi hidung saya yang besar konkanya, dan tulang bengkok.
beliau bilang perlu operasi supaya bisa bernafas lega lagi, dan kebanyakan dari kasus ini akan mengakibatkan sinusitis di masa depannya.
saya tanya gimana proses operasinya ? perlu berapa lama rawat inap (maklum karyawan yang susah cuti) ? apakah permanen sembuhnya ? jika alergi apakah hidung tetap mampet ?
beliau jawab, proses operasi cepat sekitar 1 - 1.5 jam dan akan dilakukan anestesi total. rawat inap cukup 1 malam saja. sembuhnya belum tentu permanen tetapi yang kumat lagi pun sangat jarang. jika alergi kumat, hidung harusnya tidak semampet sekarang, masih bisa bernafas.
kemudian saya tanya biaya operasinya dijawab 8000RM, wah mahal sekali saya langsung skip lagi untuk operasi tersebut.
karena 8000RM itu pastinya masih hitungan kasar. biaya operasi ditambah akomodasi, transpor, biaya check up, biaya lain-lain pasti bisa mencapai 50 juta.
saya simpan dulu mimpi tersebut sembari berdoa ketika ada rejeki lebih saya mau melakukan operasi tersebut.

di tahun 2016, saya merasakan frekuensi alergi meningkat, kepala sering sakit (migrain), dan tidak tahan dengan suhu dingin sedangkan pasangan saya tipe beruang kutub, sangat suka dingin hahaha..
saya kemudian merencanakan untuk melakukan operasi di Penang dikarenakan saya sangat senang dengan metode operasinya yang dibius total, dulu tanya di Jakarta sih biusnya hanya lokal,
jadi bisa merasakan apa yang dokternya sedang lakukan dihidung kita, ya memang bius total atau lokal adalah preferensi masing-masing, karena ketika bercerita tentang anestesi teman ada yang nyeletuk
sekarang lebih baik bius lokal daripada bius total takut ga bangun lagi, jadi kepikiran juga sih ketika teman bercerita seperti itu, tetapi gimanapun saya cukup yakin dengan profesionalitas RS Penang Adventist.
kemudian proses rawat inap yang singkat dan tidak memerlukan jahitan dan perban. di Jakarta diinfonya banyak jahitan dan perban jadi perlu disedot darahnya, rajin diganti perban, sampai perlu kontrol untuk buka jahitan.
kemudian untuk faktor biaya saya sudah perhitungkan ada sebagian dana yang bisa diklaim ke kantor karena plafon medical di tahun 2016 masih ada sisa.
istri saya sangat mendukung untuk dilakukan operasi ini, karena katanya saya tiap malam semakin berisik karena sering memaksa menghirup udara melalui hidung yang mampet,
well saya baru sadar kalau saya berisik hehe karena ketika tidur saya tidak tahu apa yang saya lakukan.. orang tua juga sangat mendukung untuk dilakukan operasi,
karena pertimbangan mereka usia 30 masih sangat muda, kesehatan harus dinomorsatukan.. karena dukungan keluarga lah saya jadi semangat untuk melakukan operasi,
saya sehat untuk keluarga juga, jika kita tidak sehat pasti keluarga yang paling khawatir dan sedih.

dikarenakan kali ini tujuan ke Penang Adventist adalah operasi maka jadwal keberangkatan dan cuti harus diatur dengan rapi. saya email-emailan dengan dokter dan customer service Penang Adventist.
dari sana saya tahu, bahwa dokter tersebut ada menyediakan hari-hari tertentu untuk khusus tindakan operasi. singkat cerita begini itinerary saya :
- sabtu berangkat dari jakarta ke penang
- minggu checkup dengan dokter untuk memastikan kondisi saya siap operasi dan keluhannya sama dengan yang dahulu
- senin buffer jika diperlukan pengecekan lab lebih lanjut untuk memastikan kondisi saya siap operasi
- selasa & kamis adalah hari operasi

Ketika checkup dengan Dokter Deong di hari minggu diinformasikan, jika saya mau saya dapat melakukan operasi tidak harus menunggu hari selasa.
saya ok saja, lebih cepat lebih baik. saya disuruh senin pagi untuk datang kerumah sakit dan mengatur kamar untuk rawat inap.
saya memang hanya booking hotel untuk sabtu malam dan minggu malam. dan akan booking kamar hotel lagi setelah tahu kapan mulai rawat jalan.
senin pagi saya checkout sekalian sarapan, diinstruksikan untuk terakhir makan minum jam 8 pagi.
sampai hotel urus administrasi dan deposit biaya rumah sakit (+- 8000RM),
kamar untuk rawat inap saya pilih yang VIP karena istri akan ikut nginep dirumah sakit menjaga saya (thanks sweetie).
tidak lama setelah mendapatkan kamar, saya mulai diinfus dan dilarang untuk makan dan minum lagi.

sekitar jam 12 siang, saya mulai dipindahkan ke kamar operasi, ini adalah pengalaman pertama saya operasi dan dirawat di rumah sakit.
ruangan bedah memiliki temperatur yang sangat dingin. suster dan dokter anestesi menanyakan apakah saya pernah dioperasi sebelumnya, apakah ada minum obat, apakah ada penyakit turunan, apakah ada minum minuman beralkohol.
di dalam kamar operasi saya mulai dipasangi alat-alat untuk memonitor fungsi tubuh. dan disuruh untuk hirup nafas dalam-dalam dan ketika terasa ngantuk jangan dilawan tetapi tidur saja.
dipesan juga ketika nanti bangun dan merasa banyak darah jangan ditelan, takutnya membuat muntah, mintalah tissue ke suster yang ada untuk membuang darah tersebut.

........

kepala saya terasa sangat sakit sekali, mual, ingin muntah, tetapi saya tidak dapat mengerakkan badan saya sama sekali, hanya bisa menggerakkan jempol kaki kanan saya.
ingin memanggil suster yang ada pun tidak keluar suaranya. saya tidur lagi, kemudian bangun lagi. kondisi badan masih sama pusing dan tidak dapat memanggil siapa-siapa.
akhirnya saya dapat memanggil suster yang ada dan meminta tissue karena terasa banyak darah didalam mulut, tak lama kemudian saya diantar kembali ke kamar saya.
tidak terasa operasi berlangsung sangat cepat, sekitar 1jam saja. tetapi kepala saya sangat pusing dan rasanya ingin muntah, suster mengiyakan bahwa hal tersebut dikarenakan efek obat bius.
kira-kira jam 6 sore infus saya sudah dilepas dan saya sudah bisa makan makanan dari luar rumah sakit. tetapi saya memilih bubur saja dikarenakan masih terasa mual.
sedangkan pantangan dari dokter hanyalah obat herbal cina dan durian. selain 2 itu boleh makan makanan apa saja.

malam itu saya tidak dapat tidur dengan nyenyak dikarenakan kepala yang pusing, kemudian banyak darah bercampur dahak yang saya keluarkan dari mulut.
untuk nafas, per malam itu juga saya bisa merasakan hidung saya begitu lega bernafasnya.
esok pagi saya dijadwalkan untuk ketemu dokter lagi untuk memastikan hasil operasi bagus, kondisi badan stabil dan bisa rawat jalan.
pada saat ketemu dokter hidung saya banyak darah kering sehingga disedot untuk memastikan hidung bersih.
siang hari saya sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, dan dokter berpesan :
- kontrol di bulan berikutnya (30 hari)
- diberikan obat oral antibiotik, anti pilek, demam / sakit kepala
- diberikan obat semprot 2 jenis.
- hindari kegiatan yang bersifat cardio / memacu aliran darah terlalu cepat
- dilarang berenang / kegiatan yang membuat basah hidung
- ada resiko mimisan, dan jika terjadi siram kepala dengan air dingin dan dongakkan kepala kebelakang agar mimisan berhenti
- akan ada bau busuk di minggu ke 3 selama 1 minggu. yang artinya proses penyembuhan berjalan dengan rencana.

setelah saya keluar dari rumah sakit, sesegera mungkin saya booking hotel untuk menginap dan memesan tiket pesawat pulang ke Jakarta.
selama di Jakarta saya hanya mengikuti aturan minum obat dari dokter dan semua pesannya.
pengalaman-pengalaman yang saya alami setelah menjalani operasi FESS (Functional Endoscopic Synus Surgery) & Turbinectomy :
- bernafas menjadi sangat lega
- di minggu pertama banyak darah yang masih keluar dari hidung, harus selalu sedia tissue untuk membersihkan darah
- dilarang untuk menundukkan kepala, karena dapat memicu mimisan (pengalaman sendiri)
- bersihkan hidung dengan lembut, jika ingin menghembuskan ingus / darah jangan terlalu dipaksa.
- bau busuk yang mulai muncul di minggu ketiga menurut saya diakibatkan banyaknya kotoran / darah kering didalam hidung.
- saya 2 kali berhasil mengeluarkan gumpalan lendir bercampur sebongkah darah dari hidung kiri.
- bangun pagi tidak migrain
- tidak ada dahak kuning lagi di pagi hari.

6 minggu setelah operasi saya datang lagi ke penang untuk control. memang melewati jadwal yang seharusnya 4 minggu setelah operasi,
tetapi Doctor Deong sedang holiday jadi harus menunggu beliau kembali bekerja. ketika dateng kontrol saya masih mengalami masalah bau hidung,
dan parahnya istri juga bisa mencium bau hidung saya, kasihan doi jadi harus mencium bau tidak enak dimalam hari..
dokter melihat bahwa hidung kiri saya sudah bersih dan proses penyembuhan sesuai dengan rencana, untuk hidung kanan masih banyak kotoran,
akhirnya disedot dan ketika disedot hidung saya berdarah lagi (mimisan). dokter berpesan untuk datang kontrol lagi 3 bulan kedepan.
dan saya pun dikasih obat semprot dan minum lagi. mimisan saya alami selama 2 hari, setelah itu hidung normal dan tidak ada bau lagi.

ya kira-kira seperti itu sharing dari saya, jika teman-teman ada yang mengalami hidung mampet yang sering sekali terjadi, cepat-cepat dicek ya ke dokter.
dikarenakan dari hidung yg mampet itu bisa berefek ke banyak hal. susah tidur, sakit kepala, kantung mata, sinusitis, dll.
jika memang ada alergi harus menghindari alergen, jika tidak maka konka bisa membesar permanen seperti yg saya alami.
jika teman-teman takut dengan operasi, lakukan konsultasi dengan dokter di rumah sakit lainnya (second opinion), kalau perlu dan sangat saya rekomendasikan ke Dr Deong Kee Kong, Jonathan dari Rumah sakit penang adventist.
jangan takut jika memang perlu dilakukan tindakan operasi, karena teknologi kesehatan sekarang sudah sangat maju.
percaya deh setelah operasi dan tidak mengalami keluhan hidung mampet lagi, hidup akan berubah drastis. hehe

sekarang saya mulai latihan lari dan olahraga, supaya antibodi meningkat dan tubuh lebih sehat karena katanya kalau antibodi kuat reaksi alergi dapat ditekan walau tidak dapat disembuhkan.
kalau stamina kita meningkat, antibodi membaik dan tidak mudah sakit, pastinya produktivitas kita juga akan meningkat.
nantinya saya mau rutin berenang juga setelah diperbolehkan dokter atau sudah tidak dijadwalkan kontrol oleh dokter.

hidung mampet setiap malam, alergi debu, susah tidur


saya punya keluhan hidung sering banget mampet, baik siang atau malam hari.. nah semakin parah ketika ane pilek atau alergi kumat..
tetapi semenjak pertengahan agustus kondisi aneh sudah jauh membaik, dan dengan kondisi dimana hidung sudah dapat bernafas dengan lancar,
aktivitas dan keseharian ane pun jadi berubah, jadi lebih bermakna dan berwarna *ciiieeeee
dan karena saya sering ketemu saudara, family maupun teman-teman lain yang juga punya kondisi yang sama (hidung mampet),
saya merasa harus sharing agar teman-teman semua jadi lebih tergerakkan untuk lebih peduli dan mengutamakan kesehatan.

sy flashback dulu ya ke belakang mengenai history hidung mampet yang sudah saya rasakan sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (sekitar tahun 1996).
setiap malam saya susah tidur, tidur tidak nyenyak dikarenakan hidung mampet, tidak bisa bernafas dengan lega.
bangun tidur pun dengan kondisi yang masih ngantuk dan banyak ingus.
semenjak kecil sekitar umur 5 tahun (thn 1992) saya sering sakit (batuk & pilek), istilahnya langganan ke dokter. ya dirata-ratakan 1 bulan sekali ada ke dokter,
baik ke dokter umum yang praktek dekat rumah, dokter spesialis anak, sampai dokter di rumah sakit. dulu masih jamannya rumah sakit graha medika (kini Siloam Kebon Jeruk).
terakhir ketemu dokter yg lumayan cocok dan beliau bilang memang ketika kecil antibodi saya lemah jadi sering sakit, tetapi pelan-pelan antibodi saya akan membaik dan tidak mudah sakit lagi.

ketika masuk SMP memang kondisi saya sudah jauh membaik, tidak mudah sakit pilek & batuk lagi. tetapi yang hidung mampet ya masih seperti itu aja.
tiap malam mampet, tidur miring agar hidung sebelah mampet dan sebelah lagi bisa bernafas dengan lega. tiap malam saya jalani seperti itu.
ada artikel di majalah yg memberitahukan agar anak dengan alergi lebih dijaga kebersihannya, ok saya jadi sering bersihin selimut dan bantal guling saya.

cara membersihkannya adalah dengan dijemur dan digebuk (maklum masih kapuk semua).. setiap kali saya gebuk itu pasti saya semakin alergi, mata berair, tenggorokan gatal, bangkis..
disaat itu saya masih tidak mengerti dengan jelas kenapa saya mengalami simptom diatas, padahal 2 kakak saya dan orang tua tidak mengalami simptom yg sama dengan saya ketika berurusan dengan debu..

ok dikarenakan saya komit untuk tetap membersihkannya, jadi setiap ada acara yang akan berhubungan dengan debu saya harus memakai sapu tangan / masker.
dengan cara ini simptom tersebut berkurang cukup drastis. tetapi tidak sampai hilang.

akhirnya ada ketemu family yang memberitahukan bantal guling dengan isi kapuk memang cenderung memicu alergi debu, disarankan untuk diganti dengan yg busa saja.
yah kondisi ekonomi yang membuat eksekusi rencana tersebut tidak langsung dilakukan.
ya sekitar 1-2 tahun (sekitar SMA) kemudian udah ganti bantal guling dengan yg busa simptom semakin berkurang, tidak setiap hari bangkis dan mampet ketika tidur.

kondisi tidur dengan hidung mampet dikarenakan sering terjadi saya jadinya pun sudah cuek saja, toh saya juga tidak pernah survei ke teman-teman apakah mereka tidur dengan hidung mampet ?
dan bisa dikatakan saya sudah lupa dengan rasa bernafas dengan hidung yang lega. dari SMP sampai kuliah orang tua tidak pernah cek ke Dokter THT, spesialis atau dokter manapun dikarenakan mereka berpikir saya dari kecil sering pilek jadi kalao dingin pilek itu sudah biasa. semua dikarenakan fisik yang tidak tahan dingin.
di bangku kuliah saya bertemu teman yang senasib, sering mampet juga dan doi berencana untuk cek ke dokter. ok saya ikut saja deh untuk ketemu dokter.
hasil dr ketemu dokter itu :
1. diagnosa ada konka yang besar dan menghalangi jalan nafas
2. tulang hidung yang bengkok juga membuat jalan nafas tidak lega

saya juga disuruh rontgen hidung untuk memastikan saya tidak sinusitis. dan memang hasilnya saya tidak sinusitis.
dari hasil pemeriksaan dengan spesialis THT itu disarankan untuk melakukan operasi, tetapi dikarenakan masalah biaya saya skip dulu de.. kalau tidak salah ingat sekitar belasan juta di tahun 2008.
cara operasinya itu dibakar daging lebihnya kemudian tulang yang bengkok perlu dipotong.  prosesnya memerlukan rawat inap 3 hari dan selama rawat inap bernafasnya lewat mulut..

setelah dari konsultasi dengan spesialis THT saya melanjutkan hidup dengan kondisi yang sama, terkadang malam susah tidur karena hidung mampet, alergi saya sering kumat jika sedang ada yang beresin rumah ,
jika travelling dan mendapati hotel yang kurang bersih juga susah tidur karena alergi kumat. bangun pagi sering mengeluarkan dahak kental kuning.

Setelah kerja (sekitar tahun 2010) saya coba konsultasikan dengan Spesialis THT lagi toh kan ada budget medical, waktu itu yang pertama konsultasi di Siloam Kebon Jeruk,
kemudian yang kedua ini di RS Husada. hasil pemeriksaan dokter sama aja disuruh operasi karena tulang hidung yg bengkok dan konka yang besar. kali ini pun saya belum mengambil tindakan operasi karena masalah biaya.

kemudian di masa pacaran (sekitar tahun 2013), waktu itu masih calon mertua menginfokan bahwa adiknya (aunty saya sekarang) kemarin sempat sinusitis / polip dan di dokter umum ini kasih obat untuk diminum 2 minggu, setelah itu langsung sembuh.
saya disuruh coba untuk ketemu dokter ini, walau ini cuma dokter umum dan estetika (ada jualan obat untuk kulit wajah juga) tapi beliau memang bukan tipe yang menyelesaikan masalah dengan cara-cara operasi..
dokter ini lokasinya di jelambar. pertama kali ketemu saya disuruh test alergi di biomedika, kebetulan saya sedang dinas di cempaka putih jadi saya pilih bio medika yang kelapa gading.
beliau pilihkan satu panel saja yang saya perlu test yaitu panel alergi hirup kemudian saya dibuatkan resep untuk menekan reaksi alergi dan biar tidurnya nyenyak, juga dikasih obat semprot nasonex 2x semprot @ 2x ditiap lubang hidung.
beliau juga suruh saya selalu pake masker kalau memang kondisi rumah berdebu.
beliau juga saranin untuk beli vacuum cleaner merk Rainbow karena ini vacuum yang sangat bagus, direkomendasikan untuk orang yang alergi.
saya baca-baca memang bagus ya, dan metodenya adalah menggunakan air untuk menangkap debu bukan dengan filter gitu, kalau filter rentan terbang-terbang lagi debunya..
lagi-lagi karena kondisi ekonomi yang menghalangi saya untuk membeli vacuum rainbow ini, harganya belasan juta mbooo..

pertemuan kedua dengan dokter itu saya diinfokan bahwa saya alergi terhadap kecoa level 1 (paling rendah) dan tungau level 3 (menengah). nah terjawab deh kenapa kalau saya lagi beresin rumah bangkis dan pileknya parah banget,
padahal kalau dijalanan ga masalah, kan tahu sendiri debu di Jakarta parah banget. saya diinfokan juga bahwa alergi yang menyebabkan hidung mampet memiliki efek samping yaitu lendir dari hidung jadinya turun lagi ke tenggorokan saya jadi teringat kenapa setiap pagi saya sering mendapati dahak yang kuning padahal tidak flu.
saya masih diberikan obat minum di malam hari dan semprotan nasonex, tetapi dosisnya sudah dikurangi. yaitu 2x sehari tiap lubang 1x semprotan saja. untuk masker tetap disuruh gunakan terus-terusan.
dengan cara ini memang hidung saya jadi jarang mampet, nafas jauh lebih lega. tetapi cara ini tidak dapat menyembuhkan permanen. jadi saya harus selalu pake masker semprot nasonex.

saya ketemu dokter ini hanya sampai pertemuan ke empat karena saya kurang setuju jika saya jadinya harus ketergantungan dengan nasonex. terus saya baca-baca juga kalau alergi itu tidak dapat disembuhkan.
memang gaya hidup orang yang alergi harus diubah, harus menghindari faktor yang memicu reaksi alergi (alergen). ya percuma donk saya uda beli obat dan nasonex juga kalau saya ga bisa sembuh (itu pikir saya).

saya stop obat dokter, dan kembali lagi ke kondisi dulu, terkadang malam saya mampet dan bangun dengan kondisi kepala migrain.
di tahun 2014 saya menikah dan mendapati istri yang sangat bersih.
pada masa itu frekuensi alergi kumat turun drastis, tetapi bangun pagi masih mendapati dahak yang kuning.
pada masa setelah menikah kondisi rumah memang jadi sangat minim debu, terus saya juga pakai kasur dan bed cover yang baru. kasur yang lama memang sudah sangat berdebu dan sulit dibersihkan,
jadi walaupun sering ganti sprei saya tetap sering kumat alerginya..

bersambung ke http://cumibulat.blogspot.com/2016/10/operasi-fess-turbinectomy.html...